Uniknya Gempa Pangandaran Juli 2006, Terungkap Setelah 11 Tahun Kejadian

Gempa bumi dan tsunami adalah bencana alam yang dahsyat dan saling terkait kejadiannya. Gempa bumi dan tsunami yang melanda Pangandaran pada bulan Juli tahun 2006 yang memakan banyak korban ternyata merupakan gempa bumi yang unik. Hal ini diungkap oleh tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) seperti yang dipublikasikan di Journal of Asian Earth Science dan Journal of Applied Geodesy bulan Juli 2017.
Ilustrasi indahnya Pantai Pangandaran.
Ilustrasi indahnya Pantai Pangandaran.
Gempa dan tsunami yang melanda Pangandaran merupakan salah satu bencana geologi yang merenggut banyak nyawa. Korban gempa dan tsunami Pangandaran hampir 700 orang meninggal dan lebih dari 60 orang hilang.

Banyaknya korban ini mungkin diakibatkan karena sebelum kejadian gempa, warga Pangandaran tak merasakan guncangan apapun. Berbeda dengan kejadian tsunami di Aceh, sebelum kejadian tsunami warga Banda Aceh merasakan guncangan gempa yang sangat kuat, sehingga lebih waspada.

Menurut Endra Gunawan, dan tim peneliti dari ITB, ternyata gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Pangandaran pada 17 Juli 2006 lalu memiliki karakteristik unik. Hal ini dikarenakan  5 tahun setelah kejadian gempa, ternyata masih terdapat pergerakan deformasi di wilayah sekitar episentrum. Data aktifitas deformasi dalam waktu 5 tahun kejadian gempa diketahui dari hasil pendataan GPS (Global Positioning System).

Keunikan gampa dan tsunami Pangandaran lainnya adalah ternyata deformasi berlangsung lama sebab gempa Pangandaran yang terjadi pada 17 Juli 2006 hanya bermagnitudo 7, berbeda dengan gempa yang terjadi di Aceh yang mencapai magnitudo 9,2. Keunikan aktifitas tektonik di Pangandaran itu dipicu oleh perbedaan bagian dalam bumi antara selatan Jawa dengan Barat Sumatera.

Menurut tim Peneliti ITB, perbedaan bagian dalam bumi antara Jawa dengan bagian Barat Sumatera ini diantaranya adalah ternyata bagian Selatan Jawa lebih fluid. Hal ini dibuktikan dengan nilai kekentalan mantle astenosfer Selatan Jawa yang lebih kecil dibandingkan Barat Sumatera.

Masih menurut Endra, tim Peneliti dari ITB, gempa Pangandaran adalah tsunami-earthquake. Gempa jenis tsunami-earthquake memicu tsunami yang datang tanpa peringatan.

Bencana tsunami bisa datang tanpa peringatan sebab kecepatan robekan pada bidang gempa lebih lambat daripada gempa normalnya.  Pada gempa normal, kecepatan robekannya 2 hingga 2,5 km per detik. Sedangkan tsunami-earthquake memiliki kecepatan di bawah 1,5 km per detik. Kecepatan robekan yang lebih pelan itu juga yang memicu aktivitas deformasi hingga 5 tahun setelah kejadian gempa.

Deformasi ini berpotensi memicu gempa susulan. Seperti yang terjadi di Jepang misalnya, riset menyebutkan bahwa gempa Tohoku pada 2011 terjadi akibat dorongan dari gempa lain di sekitarnya.

Akan tetapi, tim Peneliti ITB belum mengetahui apakah gempa Pangandaran dan deformasi lanjutannya akan mejadi prekursor gempa lain sepanjang palung di Selatan Jawa. Prekursor baru dapat diketahui apabila telah ada analisis terhadap gempa sebelumnya.

Dan ternyata, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mendeteksi adanya jalur sesar dan kejadian gempa di Selatan Jawa Barat setelah kejadian gempa Pangnadaran tahun 2006.

Endra menduga, kalau hal ini adalah sebuah rentetan peristiwa dari deformasi pasca gempa Pangandaran tahun 2006. Kejadian ini tentunya hal yang menarik untuk dipelajari.

Hasil penelitian Endra dan Tim Peneliti dari ITB ini merupakan informasi baru terkait aktifitas tektonik di Selatan Pulau Jawa. Hal inilah yang mengungkap uniknya gempa bumi dan tsunami yang melanda Pangandaran pada tanggal 17 Juli 2017.
loading...

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Uniknya Gempa Pangandaran Juli 2006, Terungkap Setelah 11 Tahun Kejadian"

Post a Comment

Terima kasih telah berkomentar

adnow

loading...

Hotel, Kereta Api dan Tiket Pesawat Termurah by Pegipegi