Travelling ke Dataran Tinggi Dieng, Negeri Para Dewa

Sekeluarga di pinggir kawah Sikidang (S7.22044 E109.90381)

Sebenernya udah lama banget berencana ke Dieng, sejak terakhir tahun 90 ketika masih SMA. Pas libur awal tahun lalu, tanggal 5-6 Januari 2013 akhirnya memaksakan diri berangkat. Memaksakan diri karena cuaca Januari biasanya memang hujan.

Persiapan seperti biasa, browsing tujuan wisata, hotel dan tempat makan, cek ramalan cuaca, dan mempersiapkan track gps dan rute alternatif apabila ada hambatan di rute utama. Karena ke Dieng bisa ditempuh dengan 2 rute, yaitu : alternatif lewat Banjarnegara belok  kiri atau via Wonosobo (jalur normal). Lewat jalur alternatif menurut informasi relatif lebih indah pemandangannya tetapi jalan lebih sempit dan lebih curam, sehingga apabila cuaca hujan tidak disarankan untuk alasan keselamatan.

Rute yang ditempuh dari Tasikmalaya ke Kalipucang dulu, karena harus tukar mobil pake yang agak tinggian, karena gak seru kalo harus ada tempat yang kelewat di Dieng karena keterbatasan kendaraan. Memang gak menyarankan kalo pake sedan atau sejenisnya, karena dipastikan akan tersiksa ketika harus menjangkau Bukit Sikunir.

Saya berangkat dari Kalipucang sekitar jam 5 pagi, dengan rencana rute Kalipucang-Sidareja-Jeruk Legi-Wangon-Rawalo-Patikraja-Banyumas-Banjarnegara-Wonosobo-Dieng. Waktu itu perjalanan lumayan lancar karena jalan gak terlalu parah kondisinya, sehingga jam 9 pagi udah sampai ke check point pertama (dengan kecepatan normal antara 70-90 km/jam), yaitu Gardu Pandang Dieng (S7.23400 E109.93821), meskipun sepanjang jalan gerimis.

di Gardu Pandan Dieng dengan background Gn. Sindoro

Udah mulai dingin tapi tetep ceria hehehe ....

Disarankan untuk booking penginapan apabila peak season, karena penginapan di Dieng terbatas, di Dieng juga gak ada hotel, yang ada penginapan/home stay. Di Gardu Pandang saya telepon dulu penginapan untuk memastikan ketersediaan kamar. Saya booking  di Home Stay Dieng Pass (S7.20422 E109.91169). Tempatnya persis berada di pertigaan pertama kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tempat parkir aman, karena di dalam dan ada gerbang, kecuali penuh hehehe ...

Hari pertama dihabiskan nganter keluarga muter-muter Dieng, mulai kawah, candi, theatre, dan wisata kuliner hehehe .... Makanan yang aneh (karena hanya ada di sekitar Wonosobo) yaitu Mie Ongklok. Mie dengan kuah seperti sate padang, dengan tambahan sate sapi dan sayuran. Dengan suhu yang dinging, mie ongklok plus minuman purwoceng bisa bikin anget hehehehe .... Sengaja hari pertama bersama keluarga, karena hari kedua saya mau tracking ke Puncak Sikunir sendirian aja. Karena kondisi track gak memungkinkan untuk anak kecil (si Bungsu masih belum nyampe 3 tahun hehehe).


Tempat parkir kawah Sikidang (S7.21913 E109.90639), udah berasa bau belerang

Bergaya di pinggir Telaga Warna (S7.21484 E109.91293)

Pelataran Candi Arjuna (S7.20484 E109.90682)

Karena si Bungsu tidur di mobil, maka nonton wisata gunung api di Dieng Plateau Theatre (S7.21682 E109.91472) cuma sama si Cikal. Pengunjung sepi, banyakan yang pacaran hahaha ....

Wisata  hari pertama selesai sudah, giliran istirahat karena besok pagi harus berangkat pagi-pagi banget ke Bukit Sikunir buat motret sunrise. Malam wiskul lagi muter-muter Dieng, masih makan sate sama mie ongklok hehehe ....

Untuk ke Sikunir, disarankan berangkat jam 5 pagi, supaya gak susah parkir. Lokasi sikunir berada di Desa Sembungan yang konon katanya merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa (sekitar 2.000 mdpl). Jarak dari pertigaan Dieng ke parkiran Sikunir sekitar 6,8 km. Lumayan  jauh dan banyak simpangan. Ini screen shot google earth biar gak nyasar. Patokannya adalah Geothermal Power Plant

Track ke Sikunir
Gerbang Desa Sembungan ke arah bukit Sikunir

Tempat parkir Bukit Sikunir (S7.23645 E109.92231) cukup luas dan nyaman. Apabila belum sempat sarapan, banyak tersedia makan hangat di sini. Tempat parkir juga bersebelahan dengan Telaga Cebongan. Kalo tertarik  bisa kemping di sekitar telaga.

Telaga Cebongan

Tracking ke bukit Sikunir dimulai di sini. Jarak sampai bukit cuma sekitar 600  m saja. Tapi jangan khawatir, jalan cukup terjal koq hehehe. Kalau seandainya rute biasa padat, bisa belok kanan memutar punggungan bukit. Cuma sangat terjal dan angin kencang. Karena saya gak sabar, saya milih rute yang terjal biar gak banyak orang hehehe ....

 Kalau beruntung, di Bukir Sikunir, kita bisa menyaksikan sunrise dua kali, golden dan silver sunrise. Saya kurang beruntung karena mendung dan gerimis. Disarankan ke Dieng bulan Juni-Agustus biar kemarau sehingga langit cerah. Dan upayakan bawa kamera yang waterproof ya hehehe...

Papan peringatan jurang

Awas jalan sangat terjal dan jurang menganga

Menikmati kesendirian, latar belakang Gn Sindoro, Sumbing sama Merbabu

Meskipung gak dapat sunrise karena mendung, gak papa lah hehehe

Negeri di atas awan ....

Berjuang naik hanya untuk motret dan menikmati hidup, lalu turun hahaha ...
Indahnya ciptaan-Nya ....

Itu cerita singkat perjalanan musim hujan ke Dieng, tidak disarankan bulan Desember-Februari, karena biasanya hujan.

Kalo yang memerlukan track gps, silahkan tinggalkan alamat email di komentar, nanti saya email-kan.

Enjor your trip ....

loading...

Postingan terkait:

4 Tanggapan untuk "Travelling ke Dataran Tinggi Dieng, Negeri Para Dewa"

herbal pelangsing alami said...

jadi kangen naek gunung lagi pak, terakhir ke semeru waktu jaman kuliah, waktu badan masih langsing hehe

Ghost Ships said...

wah ternyata pernah langsing ya ? hehehe ... saya pas lulus sekolah "cuma" 54 kg, sekarang 68 hahaha .., masih berat ideal sih ....

Zahrah Nida said...

Wah jadi flashback dan pingin lagi kesana, bagus benar memang. Di Dieng antar tempat wisata tidak terlalu jauh. Sehari tiga tempat bisa langsung terkunjungi.

Ghost Ships said...

betul Mbak, semua berada dalam 1 kompleks..., wah kalo flashback artinya banyak kenangan ya hehehe ...

Hotel, Kereta Api dan Tiket Pesawat Termurah by Pegipegi