Deja Vu Rupiah, Membuka Borok 1998


Rupiah melemah tajam. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Jatuhnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam bukan kali pertama. Sepertideja vu, Rupiah juga pernah mengalami kejatuhan yang sangat dalam pada era 1998. Kala itu Indonesia mengalami krisis moneter.

Namun pada tahun ini, nilai tukar Rupiah lebih buruk dibanding krisis 16 tahun silam. Kini, rupiah hampir menyentuh level Rp12.800 per USD. Sementara dahulu Rupiah jatuh di wilayah Rp16.800 per USD.

Yang membuat beda, kala itu Rupiah jatuh karena ketidakstabilan situasi politik sehingga hot money di pasar valuta asing dan saham mengalir deras ke luar ranah Indonesia. Lalu terjadilah kepanikan dan meluluhlantankan rantai ekonomi Indonesia.

Borok ekonomi itu pun membuat Indonesia menjadi negara pesakitan, karena harus berutang kepada International Monetary Fund (IMF). Kini, kondisi ekonomi Indonesia lebih tangguh. Perbankan dan industri lebih sehat. Apalagi jatuhnya nilai tukar Rupiah lebih dikarenakan faktor eksternal.

Menurut Senior Foreign-Exchange Strategist RBS, Greg Gibbs, yang menjadi perhatian adalah kaitannya dengan minyak dunia. Sebab, setiap negara masih membeli minyak dalam nilai tukar dolar Amerika.

Hal senada juga dinyatakan oleh Head of Strategy, Fixed Income and Currencies at Macquarie Nizam Idris, harga minyak yang saat ini sedang merosot menimbulkan implikasi yang kompleks bagi komoditas secara keseluruhan. "Indonesia masih eksportir komoditas besar," kata Nizam Idris, seperti dikutip CNBC, Senin (15/12/2014).

Selain itu, rupiah menghadapi tekanan karena akhir tahun di mana banyak diwarnai sentimen risk-off pasar.

Sumber : OkeZone
loading...

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Deja Vu Rupiah, Membuka Borok 1998"

Hotel, Kereta Api dan Tiket Pesawat Termurah by Pegipegi